8 Juni 2010

INDONESIA DAN DEMONSTRASI


Melihat semakin marak dan brutalnya aksi demonstrasi setelah Indonesia memasuki babak baru, yaitu zaman Reformasi perlu kita refleksikan mengapa hal ini terjadi ?
Apakah Reformasi telah menyadarkan masyarakat Indonesia dari kebohongan yang dialami selama ini. Ataukah Reformasi telah membuka mata, pikiran dan hati masyarakat Indonesia akan arti kebebasan yang harus dialami?
Ada apa dengan tindakan Anarkis dalam setiap aksi demonstrasi di Indonesia ? Walaupun ada beberapa aksi demonstrasi yang dibuat secara intelektual dan bermartabat.

Perlu kita cermati telah terjadi pergeseran konsep dan nilai-nilai yang ingin dicapai oleh masyarakat Indonesia setelah adanya perjuangan akan kebebasannya untuk merubah sistem dan struktur bangsa ini. Justru dalam kebebasan ini, manusia Indonesia merasa dirinya di atas segala-galanya, Hak asasi manusia yang dilegitimasi dengan adanya lembaga Pembelaan HAM menjadikan mereka melupakan nilai-nilai atau konsep antropologi tentang manusia Indonesia. Masyarakat ekonomi lemah, tak berpendidikan, yang tak mau menyibukkan diri dengan urusan ataupun pergolakan politik yang terjadi selama ini hanya diam kini bangkit bersama yang lain menuntut hak-haknya.

Disayangkan, perjuangan hak-hak ini kebanyakan bersifat anarkis. Apa benar, para demonstrans dengan keinginannya sendiri, tanpa ada faktor lain yang mendorong mereka untuk mengadaka demonstrasi? Ataukah ada hal lain yang mengkondisikan dan "mencuci otak" mereka untuk mengadakan demonstrasi? Mengapa kebanyakan Demonstrasi di Indonesia selalu diakhiri dengan tindakan anarkis? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu menghantui saya kalau mendengar, membaca dan melihat berita-berita tentang Demonstrasi.

Hal-Hal yang menyebabkan adanya Tindakan Anarkis saat melakukan Demonstrasi

Menurut saya ( Pendapat pribadi ) Demonstrasi-demonstrasi yang melibatkan/mengerahkan masyarakat yang nota bene kebanyakan berpendidikan rendah ataupun kaum marginal pasti ada motor penggeraknya alias Provokator. Mereka diberi pandangan kalau demonstrasi massal dilakukan maka sel atau penjara mana yang bisa menampungnya? Aparat keamanan jaman sekarang tidak seperti dulu, takut akan HAM. Sarana dan prasarana disiapkan. Jadi Para demonstarsi dijamin sungguh-sungguh.

Dengan tidak adanya tindakan yang tegas ( dalam arti bukan kekerasan )dari pemerintah ataupun aparat menjadikan para demonstrans merasa di atas angin. Para demonstrans diasah emosinya untuk benar-benar marah dan tertipu, hal ini dilakukan oleh provokator dengan intelektual yang tinggi, kemahirannya mempermainkan emosi masyarakat akan mampu menjaring kekuatan massa demi kepentingannya ataupun golongannya.
Praktek mengerahkan massa ini dilakukan oleh orang-orang yang tau betul titik kelemahan masyarakat baik secara emosional maupun intelektualnya.
Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi adalah suatu tindakan dimana kekuatan massa yang mendukung dan emosinya yang dipengaruhi oleh situasi. Para Demonstrans tidak pernah diajarkan oleh para jubirnya, oratornya untuk bersikap bijak. Orasi yang dilakukan justru membakar emosi para demonstran. Fakta inilah yang terjadi.

Disamping itu, pemberitaan-pemberitaan di media masa maupun media elektronik secara tidak langsung mempengaruhi emosi dan cara pandang masyarakat tentang bentuk ketidakpuasan yang disalurkan lewat demonstrasi.

Tidak mampukan kaum intelek yang memotori suatu demonstrans berlaku bijak secara intelektual, mengadakan dialog atau dengan pihak-pihak yang terkait ? Apakah ketidakpuasan selalu dilampiaskan dengan demonstrasi ? Bagaimana Pemerintah mengatasi demonstran massal ? Masih Banyak pertanyaan muncul yang sulit dijawab.

0 komentar:

Poskan Komentar